Mengenal Miqat dan Tempat Mengambil Niat Ihram
Dalam perjalanan menuju Tanah Suci, salah satu hal penting yang harus dipahami oleh jamaah haji dan umrah adalah miqat. Banyak jamaah masih bertanya-tanya, “Di mana saya harus mulai memakai ihram?” atau “Kapan niat ihram dilakukan?”
Memahami miqat sangat penting karena jamaah yang hendak melaksanakan haji atau umrah dari luar Makkah tidak boleh melewati batas miqat tanpa berihram dan berniat, sesuai dengan ketentuan manasik.
Artikel ini akan membahas pengertian miqat, macam-macam miqat, lokasi miqat bagi jamaah dari berbagai arah, serta kapan dan di mana niat ihram dilakukan.
Apa Itu Miqat?
Secara bahasa, miqat berarti batas atau waktu yang telah ditentukan.
Dalam ibadah haji dan umrah, miqat merupakan batas yang telah ditetapkan sebagai tempat atau waktu untuk memulai ihram.
Miqat terbagi menjadi dua:
Miqat zamani — batas waktu untuk melaksanakan haji.
Miqat makani — batas tempat untuk memulai ihram.
Jadi, ketika berbicara mengenai “tempat mengambil niat ihram”, yang dimaksud adalah miqat makani.
Dalil tentang Miqat
Penetapan miqat berasal dari hadis Rasulullah ﷺ. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ menetapkan beberapa tempat miqat bagi penduduk berbagai wilayah:
“Nabi ﷺ menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Juhfah, bagi penduduk Najd di Qarnul Manazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa miqat tersebut berlaku bagi orang-orang yang melewatinya dari wilayah tersebut maupun orang lain yang datang melalui jalur yang sama dengan tujuan melaksanakan haji atau umrah.
Hadis ini menjadi salah satu dalil utama mengenai miqat makani.
Macam-Macam Miqat Makani
Ada beberapa lokasi miqat yang dikenal dalam pelaksanaan haji dan umrah.
1. Dzul Hulaifah — Miqat Jamaah dari Madinah
Dzul Hulaifah merupakan miqat bagi jamaah yang datang dari arah Madinah.
Saat ini lokasi tersebut dikenal dengan Bir Ali.
Jamaah yang berangkat dari Madinah menuju Makkah biasanya melakukan persiapan ihram di hotel atau tempat yang memungkinkan, kemudian menuju Masjid Miqat di Dzul Hulaifah.
Sebelum melewati miqat, jamaah melakukan niat ihram untuk haji atau umrah.
Contoh perjalanan:
Madinah → Dzul Hulaifah/Bir Ali → Makkah
2. Al-Juhfah — Miqat dari Arah Syam
Al-Juhfah merupakan miqat bagi jamaah yang datang dari arah Syam, termasuk wilayah yang secara geografis berada di arah barat laut Makkah.
Karena lokasi Al-Juhfah sudah tidak menjadi tempat utama yang digunakan jamaah saat ini, jamaah biasanya mengambil miqat di Rabigh, yang berada sebelum atau di kawasan pengganti yang digunakan untuk mengambil miqat.
Contoh:
Arah Syam → Rabigh → Makkah
Jamaah yang melewati jalur ini perlu memperhatikan arahan pembimbing agar tidak melewati batas miqat tanpa berihram.
3. Qarnul Manazil — Miqat dari Arah Najd
Qarnul Manazil merupakan miqat bagi jamaah yang datang dari arah Najd.
Lokasi ini sekarang dikenal sebagai As-Sail Al-Kabir.
Jamaah yang datang dari arah timur menuju Makkah dapat mengambil ihram di miqat ini.
4. Yalamlam — Miqat dari Arah Yaman
Yalamlam merupakan miqat bagi jamaah yang datang dari arah Yaman.
Nama Yalamlam juga digunakan untuk menyebut kawasan pegunungan yang menjadi batas miqat tersebut.
Jamaah yang melakukan perjalanan dari arah selatan menuju Makkah harus memperhatikan posisi miqat ini.
5. Dzat ‘Irq — Miqat dari Arah Irak
Dzat ‘Irq merupakan miqat bagi jamaah yang datang dari arah Irak.
Lokasi ini menjadi salah satu batas miqat yang ditetapkan berdasarkan tuntunan Nabi ﷺ dan penetapan yang berkaitan dengan wilayah kedatangan jamaah.
Tabel Miqat Makani
Arah Kedatangan Miqat Nama yang Dikenal Saat Ini
Madinah Dzul Hulaifah Bir Ali
Syam Al-Juhfah Rabigh sebagai lokasi yang digunakan jamaah
Najd Qarnul Manazil As-Sail Al-Kabir
Yaman Yalamlam Yalamlam
Irak Dzat ‘Irq Dzat ‘Irq
Catatan: Penentuan lokasi praktis bagi jamaah modern, terutama yang menggunakan pesawat, perlu mengikuti rute penerbangan dan arahan pembimbing ibadah.
Bagaimana dengan Jamaah yang Naik Pesawat?
Ini merupakan pertanyaan yang sangat penting bagi jamaah Indonesia.
Sebagian besar jamaah haji dan umrah Indonesia menuju Arab Saudi menggunakan pesawat. Pesawat tidak berhenti di miqat seperti perjalanan darat, sehingga jamaah harus melakukan persiapan sebelum pesawat melewati atau sejajar dengan miqat.
Jamaah laki-laki dapat memakai pakaian ihram sebelum naik pesawat atau pada waktu yang diarahkan oleh pembimbing.
Namun, perlu dibedakan:
Memakai pakaian ihram ≠ mulai berihram.
Pakaian ihram dapat dikenakan sebelum miqat. Adapun niat ihram dilakukan ketika sudah mendekati atau sejajar dengan miqat, sesuai arahan awak pesawat atau pembimbing ibadah.
Setelah berniat, jamaah mulai berada dalam keadaan ihram dan harus mematuhi larangan ihram.
Mengapa Niat Ihram Tidak Boleh Terlambat?
Miqat merupakan batas yang harus diperhatikan jamaah.
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai miqat:
“Tempat-tempat itu adalah miqat bagi penduduk tempat-tempat tersebut dan bagi orang yang melewatinya yang bukan penduduknya, bagi orang yang ingin melaksanakan haji dan umrah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jamaah yang melewati miqat menuju Makkah dengan tujuan haji atau umrah harus memperhatikan waktu untuk berihram.
Jika seseorang melewati miqat tanpa ihram karena lupa, tidak tahu, atau sebab lainnya, jangan langsung mengambil keputusan sendiri. Segera tanyakan kepada pembimbing ibadah karena terdapat ketentuan fikih mengenai cara memperbaiki keadaan tersebut dan kemungkinan kewajiban dam.
Perbedaan Miqat Zamani dan Miqat Makani
Agar tidak keliru, berikut perbedaannya:
Miqat Zamani
Miqat zamani adalah batas waktu pelaksanaan haji.
Allah SWT berfirman:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ
“Musim haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Miqat Makani
Miqat makani adalah batas tempat untuk memulai ihram bagi jamaah yang datang dari berbagai arah menuju Makkah.
Jadi, sederhananya:
Miqat zamani = kapan waktunya.
Miqat makani = di mana tempatnya.
Apakah Jamaah yang Sudah Berada di Makkah Harus Kembali ke Miqat?
Ketentuannya bergantung pada kondisi jamaah dan jenis ibadah yang akan dilakukan.
Jamaah yang berada di Makkah dan ingin melakukan umrah biasanya harus keluar ke wilayah halal untuk mengambil miqat umrah, misalnya ke Tan’im.
Sementara untuk haji, jamaah yang berada di Makkah memiliki ketentuan ihram yang berbeda berdasarkan jenis haji dan kondisi tempat tinggalnya.
Karena itu, jamaah sebaiknya mengikuti arahan pembimbing manasik agar tidak salah menentukan tempat mengambil ihram.
Tips Agar Tidak Terlewat Miqat
Bagi jamaah haji dan umrah, beberapa tips berikut dapat membantu:
1. Pelajari rute perjalanan
Ketahui apakah perjalanan menuju Makkah melalui Madinah, jalur udara, atau jalur darat.
2. Pakai kain ihram sebelum waktu miqat
Untuk jamaah laki-laki yang menggunakan pesawat, sebaiknya sudah memakai kain ihram sebelum mendekati miqat agar tidak terburu-buru.
3. Dengarkan arahan pembimbing
Pembimbing atau petugas biasanya akan memberikan informasi ketika pesawat mendekati posisi miqat.
4. Jangan menunggu sampai mendarat
Jika perjalanan langsung menuju Jeddah dan jamaah akan melanjutkan ke Makkah untuk haji atau umrah, jangan menunggu sampai tiba di Jeddah untuk mulai berihram apabila miqat telah terlewati.
5. Bedakan pakaian ihram dengan niat ihram
Ini sangat penting.
Pakaian bisa dipakai lebih awal, sedangkan niat dilakukan pada waktu miqat.

