Mabit di Mina dan Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
Mabit di Mina merupakan salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah, jamaah melanjutkan rangkaian manasik di Mina pada hari-hari Tasyrik.
Mina menjadi tempat jamaah melaksanakan mabit dan melontar tiga jumrah, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Karena kondisi Mina biasanya sangat padat, jamaah perlu memahami ketentuan dan menjaga kesehatan serta keselamatan selama berada di sana.
Apa Itu Mabit di Mina?
Secara bahasa, mabit berarti bermalam atau menetap pada malam hari.
Dalam rangkaian haji, mabit di Mina adalah bermalam di Mina pada malam-malam hari Tasyrik, yaitu malam 11, 12, dan bagi jamaah yang mengambil nafar tsani, malam 13 Dzulhijjah.
Mabit di Mina berkaitan erat dengan pelaksanaan lempar jumrah pada hari-hari Tasyrik.
Allah SWT berfirman:
“Dan berzikirlah kepada Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”
(QS. Al-Baqarah: 203)
Ayat ini berkaitan dengan zikir pada hari-hari Tasyrik dalam rangkaian ibadah haji.
Hukum Mabit di Mina
Mabit di Mina termasuk wajib haji menurut mayoritas ulama.
Karena itu, jamaah perlu memperhatikan pelaksanaannya dengan baik.
Namun, terdapat rincian fikih dan perbedaan pendapat ulama mengenai kadar minimal mabit serta kondisi jamaah yang memiliki uzur.
Jamaah yang tidak dapat bermalam di Mina karena alasan tertentu, seperti sakit, kondisi kesehatan, tugas pelayanan jamaah, atau uzur lainnya, memiliki ketentuan yang berbeda.
Karena itu, jangan mengambil keputusan sendiri. Jamaah sebaiknya mengikuti arahan pembimbing ibadah dan petugas haji.
Kapan Mabit di Mina Dilaksanakan?
Mabit di Mina dilakukan pada malam-malam hari Tasyrik.
Secara umum:
Malam 11 Dzulhijjah
Jamaah bermalam di Mina dan pada 11 Dzulhijjah melontar tiga jumrah.
Malam 12 Dzulhijjah
Jamaah kembali bermalam di Mina dan melontar tiga jumrah.
Malam 13 Dzulhijjah
Dilakukan oleh jamaah yang memilih nafar tsani, kemudian melontar tiga jumrah.
Jamaah yang memilih nafar awal dapat meninggalkan Mina setelah menyelesaikan kewajiban pada 12 Dzulhijjah sesuai ketentuan.
Apa yang Dilakukan Jamaah Saat Mabit di Mina?
Mabit di Mina bukan hanya waktu untuk beristirahat. Jamaah juga dapat memanfaatkannya untuk memperbanyak ibadah.
Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan antara lain:
Salat wajib
Zikir
Membaca Al-Qur’an
Berdoa
Istighfar
Beristirahat
Mempersiapkan diri untuk melontar jumrah
Menjaga kondisi fisik
Jamaah tidak perlu melakukan aktivitas berlebihan karena rangkaian haji membutuhkan stamina yang cukup.
Lempar Tiga Jumrah di Mina
Pada hari Tasyrik, jamaah melaksanakan lempar tiga jumrah, yaitu:
Jumrah Ula
Jumrah Wustha
Jumrah Aqabah
Masing-masing jumrah dilempar sebanyak tujuh kali, sehingga total terdapat:
3 jumrah × 7 lemparan = 21 lemparan per hari.
Setiap lemparan dilakukan dengan satu batu kerikil dan disertai takbir.
Urutannya adalah:
Jumrah Ula → Jumrah Wustha → Jumrah Aqabah
Urutan ini perlu diperhatikan agar jamaah tidak keliru ketika melaksanakan lempar jumrah.
Perbedaan Nafar Awal dan Nafar Tsani
Salah satu hal yang perlu dipahami jamaah selama berada di Mina adalah perbedaan nafar awal dan nafar tsani.
Nafar Awal
Jamaah meninggalkan Mina setelah menyelesaikan lempar jumrah pada 12 Dzulhijjah, sebelum matahari terbenam, sesuai ketentuan.
Dengan demikian, jamaah tidak perlu mabit pada malam 13 Dzulhijjah.
Nafar Tsani
Jamaah tetap berada di Mina dan melanjutkan mabit hingga malam 13 Dzulhijjah.
Pada 13 Dzulhijjah, jamaah kembali melaksanakan lempar tiga jumrah sebelum meninggalkan Mina.
Keduanya merupakan pilihan yang dikenal dalam pelaksanaan manasik haji sesuai ketentuan syariat.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Mabit di Mina
1. Jaga Kesehatan
Kondisi Mina dapat sangat padat dan cuaca bisa terasa panas. Jamaah perlu menjaga kondisi tubuh dengan:
Minum air yang cukup
Beristirahat
Mengonsumsi makanan bergizi
Menghindari aktivitas yang tidak diperlukan
2. Ikuti Jadwal Rombongan
Jangan berangkat melontar jumrah sendiri jika rombongan telah memiliki jadwal.
Petugas biasanya mengatur waktu keberangkatan untuk menghindari kepadatan.
3. Kenali Lokasi Tenda
Jamaah sebaiknya mengingat atau mencatat lokasi tenda agar tidak tersesat ketika kembali setelah melontar jumrah.
Simpan kartu identitas atau informasi lokasi penginapan dengan aman.
4. Jangan Membawa Barang Berlebihan
Bawalah barang yang benar-benar diperlukan.
Barang bawaan yang terlalu banyak dapat menyulitkan jamaah ketika berjalan menuju tempat jumrah.
5. Gunakan Alas Kaki yang Nyaman
Perjalanan dari tenda menuju area Jamarat membutuhkan banyak berjalan.
Gunakan alas kaki yang nyaman dan sesuai.
6. Jangan Memaksakan Diri
Jamaah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik sebaiknya tidak memaksakan diri berjalan jauh tanpa pendamping.
Ikuti arahan petugas jika membutuhkan bantuan.
Adab Saat Berada di Mina
Mina merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji sehingga jamaah hendaknya menjaga adab selama berada di sana.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Menjaga kebersihan
Buang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Menjaga kesabaran
Kepadatan dan antrean merupakan bagian dari kondisi yang mungkin dihadapi jamaah.
Tidak mengganggu jamaah lain
Hindari berbicara terlalu keras atau melakukan aktivitas yang mengganggu jamaah lain.
Memanfaatkan waktu untuk ibadah
Gunakan waktu luang untuk zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan beristirahat.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mabit di Mina
Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
Tidak mengetahui lokasi tenda.
Jamaah sebaiknya selalu mencatat lokasi tenda dan nomor rombongan.
Berangkat sendiri tanpa koordinasi.
Hal ini meningkatkan risiko tersesat.
Memaksakan diri ketika kondisi tubuh lelah.
Istirahat merupakan hal penting selama rangkaian haji.
Keliru urutan jumrah.
Pada hari Tasyrik, urutannya adalah Jumrah Ula, Jumrah Wustha, kemudian Jumrah Aqabah.
Menganggap semakin keras lemparan semakin baik.
Lempar jumrah dilakukan sesuai tuntunan, bukan dengan melempar secara kasar atau membahayakan orang lain.
Hikmah Mabit di Mina
Mabit di Mina memiliki sejumlah hikmah yang dapat menjadi pelajaran bagi jamaah.
Melatih kesabaran
Kehidupan di tenda dan kondisi padat mengajarkan jamaah untuk bersabar.
Meningkatkan kedisiplinan
Jamaah harus mengikuti jadwal ibadah, waktu melontar, dan aturan yang berlaku.
Memperbanyak zikir
Hari-hari Tasyrik menjadi kesempatan untuk memperbanyak mengingat Allah SWT.
Menguatkan persaudaraan
Jamaah dari berbagai negara berkumpul di tempat yang sama dan menjalankan ibadah dengan tujuan yang sama.
Mengajarkan kesederhanaan
Mabit di Mina mengingatkan jamaah untuk meninggalkan kemewahan dan hidup sederhana dalam rangka beribadah kepada Allah.

