Travel Umroh & Haji • Pendampingan ProfesionalHotline / WhatsApp: 0823-2529-7047
Beranda › Panduan Haji & Umroh › Panduan Haji
Panduan Haji

Lempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah

Lempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah merupakan salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Amalan ini dilakukan setelah jamaah menyelesaikan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Mina.

Pada Hari Nahr atau 10 Dzulhijjah, jamaah haji melaksanakan lempar Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kerikil. Setelah itu, jamaah melanjutkan rangkaian ibadah seperti tahallul dan thawaf ifadhah sesuai dengan jenis haji serta kondisi masing-masing.

Memahami tata cara, waktu, jumlah batu, dan ketentuan lempar Jumrah Aqabah penting agar jamaah dapat menjalankan manasik dengan tertib.

Apa Itu Lempar Jumrah Aqabah?
Lempar Jumrah Aqabah adalah ibadah dengan cara melemparkan tujuh batu kerikil ke arah tempat jumrah di Mina pada 10 Dzulhijjah.

Jumrah Aqabah merupakan salah satu dari tiga tempat jumrah yang berada di Mina, yaitu:

Jumrah Ula
Jumrah Wustha
Jumrah Aqabah
Pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah hanya melakukan Jumrah Aqabah, sedangkan ketiga jumrah dilaksanakan pada hari-hari Tasyrik, yaitu 11, 12, dan bagi yang mengambil nafar tsani, 13 Dzulhijjah.

Dalil tentang Lempar Jumrah Aqabah
Lempar jumrah merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu mengenai tata cara haji Rasulullah ﷺ, disebutkan bahwa setelah Nabi ﷺ sampai di Mina, beliau mendatangi Jumrah yang berada di dekat Aqabah dan melemparnya dengan tujuh kerikil, sambil bertakbir pada setiap lemparan.

(HR. Muslim)

Hadis tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan lempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah.

Allah SWT juga berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

Artinya:

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Ayat tersebut berkaitan dengan rangkaian ibadah dan zikir pada hari-hari haji.

Kapan Lempar Jumrah Aqabah Dilaksanakan?
Lempar Jumrah Aqabah dilakukan pada 10 Dzulhijjah, yang disebut juga Hari Nahr.

Jamaah biasanya tiba di Mina setelah meninggalkan Muzdalifah. Setelah itu, mereka menuju tempat Jumrah Aqabah untuk melaksanakan lempar jumrah.

Secara umum, urutannya adalah:

9 Dzulhijjah
➡️ Wukuf di Arafah

⬇️

Malam 10 Dzulhijjah
➡️ Mabit di Muzdalifah

⬇️

10 Dzulhijjah
➡️ Menuju Mina
➡️ Lempar Jumrah Aqabah
➡️ Tahallul
➡️ Thawaf Ifadhah
➡️ Sa’i bagi yang memiliki kewajiban sa’i

Rangkaian tersebut dapat memiliki perbedaan teknis berdasarkan jenis haji dan kondisi jamaah.

Berapa Jumlah Batu untuk Jumrah Aqabah?
Jamaah melempar 7 batu kerikil untuk Jumrah Aqabah.

Setiap satu lemparan disertai dengan takbir.

Jadi, pada 10 Dzulhijjah:

1 jumrah × 7 batu = 7 lemparan

Berbeda dengan hari Tasyrik, ketika jamaah melakukan lemparan pada tiga jumrah, masing-masing sebanyak tujuh batu.

Tata Cara Lempar Jumrah Aqabah
Berikut gambaran sederhana tata cara lempar Jumrah Aqabah.

1. Menuju Mina
Setelah menyelesaikan mabit di Muzdalifah sesuai ketentuan, jamaah menuju Mina.

2. Menyiapkan Batu Kerikil
Jamaah menyiapkan tujuh batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar Jumrah Aqabah.

3. Menghadap Tempat Jumrah
Jamaah berdiri pada posisi yang memungkinkan untuk melakukan lemparan dengan aman.

4. Melempar Tujuh Kali
Jamaah melempar satu batu untuk setiap lemparan.

Setiap lemparan disertai dengan ucapan:

الله أكبر

Artinya:

“Allah Mahabesar.”

5. Tidak Perlu Berlama-lama di Tempat Jumrah
Setelah selesai melempar tujuh batu, jamaah dapat meninggalkan lokasi dan melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya.

Apakah Batu Harus Mengenai Tiang?
Hal yang penting dipahami adalah tujuan lempar jumrah bukan melempar tiang atau bangunan tertentu.

Yang menjadi sasaran adalah area/jamrah tempat batu dilemparkan.

Karena itu, jamaah tidak perlu memaksakan diri melempar dengan keras atau mendekati tempat jumrah secara berbahaya.

Keselamatan jamaah harus menjadi perhatian utama.

Apa Makna Lempar Jumrah?
Lempar jumrah bukan berarti jamaah sedang melempar setan secara harfiah.

Lempar jumrah merupakan bagian dari ibadah yang disyariatkan dalam rangkaian haji dan menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam pelaksanaannya, jamaah mengingat ketaatan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan menjalankan manasik sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.

Lempar jumrah juga dapat menjadi simbol bagi seorang muslim untuk melawan godaan, hawa nafsu, dan berbagai hal yang menjauhkan dirinya dari ketaatan kepada Allah.

Namun, makna simbolis tersebut tidak boleh menggantikan pemahaman bahwa lempar jumrah pada dasarnya adalah ibadah yang tata caranya mengikuti tuntunan syariat.

Apa yang Dilakukan Setelah Lempar Jumrah Aqabah?
Setelah selesai melempar Jumrah Aqabah, jamaah dapat melanjutkan rangkaian berikutnya.

1. Tahallul
Jamaah melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambut sesuai ketentuan.

Bagi laki-laki, mencukur seluruh rambut kepala (halq) lebih utama daripada memendekkannya (taqsir) berdasarkan hadis Nabi ﷺ.

Untuk perempuan, rambut dipotong secukupnya sesuai ketentuan.

Tahallul menjadi salah satu tahapan penting menuju tahallul awal.

2. Thawaf Ifadhah
Setelah rangkaian di Mina, jamaah menuju Makkah untuk melaksanakan thawaf ifadhah.

Thawaf ifadhah merupakan rukun haji, sehingga jamaah harus melaksanakannya.

3. Sa’i
Bagi jamaah yang masih memiliki kewajiban sa’i, sa’i dilakukan antara Shafa dan Marwah.

Rincian pelaksanaan sa’i bergantung pada jenis haji yang dilakukan jamaah.

Perbedaan Jumrah Aqabah dan Tiga Jumrah
Agar tidak tertukar, berikut perbedaannya:

Waktu Jumlah Jumrah Jumlah Lemparan
10 Dzulhijjah Jumrah Aqabah 7 batu
11 Dzulhijjah Ula, Wustha, Aqabah 21 batu
12 Dzulhijjah Ula, Wustha, Aqabah 21 batu
13 Dzulhijjah Ula, Wustha, Aqabah 21 batu

Jamaah yang melakukan nafar awal dapat meninggalkan Mina setelah menyelesaikan kewajibannya pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam, sesuai ketentuan.

Sedangkan jamaah yang mengambil nafar tsani melanjutkan mabit dan melontar jumrah pada 13 Dzulhijjah.

Tips Aman Saat Lempar Jumrah
Kawasan jamarat dapat sangat padat, terutama pada waktu-waktu tertentu. Jamaah sebaiknya memperhatikan beberapa hal:

Ikuti jadwal rombongan
Jangan memaksakan diri pergi pada waktu yang tidak ditentukan oleh petugas.

Jangan melempar dengan keras
Lemparan tidak perlu dilakukan dengan tenaga berlebihan.

Hindari berdesakan
Utamakan keselamatan. Jangan memaksakan diri mendekati area jumrah apabila kondisinya terlalu padat.

Jangan mengambil batu terlalu besar
Gunakan kerikil yang sesuai dengan ketentuan dan tidak membahayakan jamaah lain.

Jangan berhenti terlalu lama
Setelah menyelesaikan tujuh lemparan, segera meninggalkan area agar tidak menghambat jamaah lain.

Jaga kondisi tubuh
Cuaca panas dan perjalanan yang panjang dapat menguras tenaga. Pastikan cukup minum dan beristirahat.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Lempar Jumrah
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:

Menganggap jumlah lemparan harus tujuh batu sekaligus.
Yang benar adalah melempar satu batu setiap lemparan hingga tujuh kali.

Melempar batu terlalu besar.
Hal ini dapat membahayakan jamaah lain.

Mendorong atau berdesakan.
Ibadah tidak boleh dilakukan dengan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Menganggap harus mengenai tiang.
Sasaran lemparan adalah area jamrah, bukan sekadar mengenai tiang.

Berhenti untuk berdoa setelah Jumrah Aqabah.
Berbeda dengan Jumrah Ula dan Wustha pada hari Tasyrik, setelah Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah jamaah tidak disyariatkan berdiri lama untuk berdoa di tempat tersebut.

Hikmah Lempar Jumrah Aqabah
Di balik pelaksanaan lempar jumrah terdapat berbagai pelajaran yang dapat direnungkan.

1. Ketaatan kepada Allah
Jamaah melaksanakan ibadah karena mengikuti perintah dan tuntunan syariat.

2. Melawan godaan
Lempar jumrah dapat menjadi momentum untuk memperkuat tekad meninggalkan maksiat dan godaan yang menjauhkan diri dari Allah.

3. Belajar disiplin
Jamaah mengikuti waktu, jumlah lemparan, urutan, dan tata cara yang telah ditentukan.

4. Melatih kesabaran
Kondisi padat dan perjalanan panjang mengajarkan jamaah untuk bersabar dan menjaga akhlak.

Masih ada pertanyaan tentang Haji atau Umroh?

Konsultasikan kebutuhan perjalanan dan bimbingan ibadah bersama tim An Naba.

Konsultasi Gratis
← Kembali ke Panduan
☏