Travel Umroh & Haji • Pendampingan ProfesionalHotline / WhatsApp: 0823-2529-7047
Beranda › Panduan Haji & Umroh › Panduan Haji
Panduan Haji

Panduan Memakai Ihram dan Niat Haji

Panduan Memakai Ihram dan Niat Haji yang Benar
Ihram merupakan salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Ketika seseorang telah berniat ihram di miqat, ia mulai terikat dengan berbagai ketentuan dan larangan ihram yang harus dijaga hingga melakukan tahallul.

Bagi jamaah yang baru pertama kali melaksanakan haji, memahami cara memakai kain ihram, tata cara niat haji, waktu berniat, serta larangan selama ihram sangat penting agar ibadah dapat dilakukan dengan tertib dan sesuai tuntunan.

Artikel ini membahas panduan ihram secara praktis, baik untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.

Apa Itu Ihram dalam Ibadah Haji?
Secara sederhana, ihram adalah keadaan seseorang setelah berniat untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah. Jadi, ihram bukan sekadar pakaian berwarna putih yang dikenakan jamaah laki-laki.

Hal ini penting dipahami karena kain ihram dan keadaan ihram merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang dapat mengenakan kain ihram, tetapi belum masuk dalam keadaan ihram apabila belum melakukan niat sesuai ketentuan.

Dalam keadaan ihram, jamaah wajib menjaga diri dari berbagai larangan yang telah ditetapkan dalam syariat.

Allah SWT berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya:

“Musim haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata jorok, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam melakukan haji.”

(QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang telah menetapkan niat haji, ia harus menjaga perilaku dan ketentuan selama melaksanakan ibadah.

Persiapan Sebelum Memakai Ihram
Sebelum memasuki keadaan ihram, jamaah dianjurkan melakukan beberapa persiapan.

1. Mandi sebelum ihram
Jamaah dianjurkan untuk mandi sebagai bagian dari persiapan sebelum berihram.

2. Membersihkan dan merapikan diri
Jamaah dapat memotong kuku, merapikan kumis, mencabut bulu ketiak, dan membersihkan diri sebelum memasuki ihram.

Hal-hal tersebut sebaiknya dilakukan sebelum berniat ihram, karena setelah berada dalam keadaan ihram terdapat larangan tertentu berkaitan dengan rambut dan kuku.

3. Menggunakan wewangian sebelum niat ihram
Laki-laki dianjurkan menggunakan wewangian pada tubuh sebelum memasuki keadaan ihram. Namun, setelah berniat ihram, jamaah harus memperhatikan larangan menggunakan wewangian.

4. Memakai pakaian ihram
Laki-laki menggunakan dua lembar kain ihram, sedangkan perempuan mengenakan pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan syariat.

5. Melaksanakan salat sunnah
Jamaah dapat melaksanakan salat sunnah sebelum berihram sesuai tuntunan dan kondisi yang ada.

Cara Memakai Kain Ihram untuk Laki-Laki
Pakaian ihram laki-laki terdiri dari dua lembar kain putih yang tidak berjahit sebagai pakaian berbentuk tubuh.

Satu kain digunakan untuk menutup bagian bawah tubuh, sedangkan kain lainnya digunakan untuk menutup bagian atas tubuh.

Langkah-langkahnya:
1. Gunakan kain pertama sebagai penutup bagian bawah

Kain dililitkan untuk menutup bagian tubuh dari sekitar pinggang hingga bagian bawah kaki dengan tetap memastikan aurat tertutup.

2. Pastikan kain terikat dengan kuat

Jamaah harus memastikan kain tidak mudah terlepas, terutama ketika berjalan, melakukan thawaf, sa’i, maupun aktivitas lainnya.

Jamaah dapat menggunakan sabuk atau ikat pinggang khusus untuk membantu menjaga kain tetap aman, selama penggunaannya sesuai ketentuan.

3. Gunakan kain kedua untuk bagian atas

Kain kedua disampirkan pada tubuh bagian atas sehingga menutup badan dengan baik.

4. Perhatikan kondisi saat thawaf

Dalam pelaksanaan thawaf, laki-laki disunnahkan melakukan idhthiba’, yaitu meletakkan kain ihram di bawah ketiak kanan dan menutup bahu kiri. Setelah thawaf selesai, kedua bahu kembali ditutup.

Catatan: Idhthiba’ dilakukan khusus ketika thawaf, bukan selama seluruh waktu dalam keadaan ihram.

Bagaimana Pakaian Ihram untuk Perempuan?
Berbeda dengan laki-laki, perempuan tidak memiliki model khusus berupa dua lembar kain putih.

Perempuan tetap menggunakan pakaian yang menutup aurat dan sesuai ketentuan syariat. Pakaian tersebut sebaiknya nyaman, tidak transparan, tidak ketat, dan memudahkan jamaah dalam menjalankan rangkaian ibadah.

Dalam keadaan ihram, perempuan tidak mengenakan niqab/cadar yang menempel pada wajah dan tidak memakai sarung tangan menurut ketentuan ihram yang umum diajarkan dalam manasik.

Namun, perempuan tetap wajib menjaga aurat dan dapat menutup wajahnya dengan kain yang tidak dikenakan sebagai niqab apabila diperlukan, terutama ketika berada di hadapan laki-laki non-mahram, sesuai tuntunan fikih yang diikuti.

Niat Haji dan Bacaan Talbiyah
Setelah sampai di miqat, jamaah melakukan niat untuk memasuki ibadah haji.

Untuk haji, salah satu lafaz niat yang umum dibaca adalah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ حَجًّا

Labbaikallāhumma hajjan.

Artinya:

“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berhaji.”

Setelah berniat, jamaah membaca talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Artinya:

“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyah menjadi salah satu amalan yang sangat penting setelah jamaah memasuki ihram.

Kapan Niat Haji Dilakukan?
Niat haji dilakukan di miqat atau sebelum melewati batas miqat bagi jamaah yang datang menuju Makkah dari luar miqat.

Miqat merupakan batas yang telah ditentukan untuk memulai ihram.

Karena itu, jamaah harus mengetahui rute perjalanannya dan memperhatikan informasi dari pembimbing ibadah mengenai kapan dan di mana harus mulai berihram.

Untuk jamaah yang menggunakan pesawat, misalnya, biasanya jamaah sudah mengenakan pakaian ihram sebelum pesawat melewati miqat dan kemudian berniat ketika mendekati atau sejajar dengan miqat sesuai arahan pembimbing dan informasi penerbangan.

Jangan menunggu sampai tiba di Makkah untuk berniat ihram jika jamaah memang melewati miqat dari luar Makkah.

Apakah Memakai Ihram Berarti Sudah Berniat?
Belum tentu.

Ini merupakan salah satu hal yang sering membingungkan jamaah pemula.

Memakai kain ihram adalah persiapan pakaian, sedangkan niat ihram adalah niat untuk memasuki pelaksanaan ibadah haji atau umrah.

Jamaah dapat mengenakan kain ihram terlebih dahulu sebelum sampai di miqat. Setelah sampai atau sejajar dengan miqat, barulah melakukan niat sesuai jenis ibadah yang hendak dilaksanakan.

Karena itu, jangan hanya mengingat “kapan memakai kain ihram”, tetapi juga pahami “kapan mulai berniat ihram.”

Larangan Selama Berada dalam Keadaan Ihram
Setelah berniat ihram, jamaah harus menjaga diri dari berbagai larangan.

Beberapa di antaranya adalah:

Larangan bagi laki-laki dan perempuan
Memotong atau mencabut rambut dengan sengaja.
Memotong kuku.
Menggunakan wewangian setelah ihram.
Berburu atau membunuh hewan buruan darat.
Melakukan hubungan suami istri.
Melakukan hal-hal yang termasuk pendahuluan hubungan seksual.
Melangsungkan akad nikah.
Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu mencukur rambutmu sebelum hewan kurban sampai di tempat penyembelihannya.”

(QS. Al-Baqarah: 196)

Allah juga berfirman:

“Diharamkan atas kamu berburu binatang buruan darat selama kamu dalam keadaan ihram.”

(QS. Al-Ma’idah: 96)

Larangan khusus laki-laki
Laki-laki tidak mengenakan pakaian yang dibuat mengikuti bentuk tubuh seperti pakaian biasa, dan tidak memakai penutup kepala yang melekat secara langsung pada kepala.

Larangan khusus perempuan
Perempuan tidak mengenakan niqab/cadar yang melekat pada wajah dan sarung tangan selama ihram menurut ketentuan yang umum diajarkan dalam manasik.

Karena rincian larangan ihram memiliki pembahasan fikih yang cukup luas, jamaah sebaiknya mempelajarinya bersama pembimbing sebelum keberangkatan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Melanggar Larangan Ihram?
Tidak semua pelanggaran ihram memiliki konsekuensi yang sama.

Ada pelanggaran yang mengharuskan dam, ada yang memiliki ketentuan fidyah tertentu, dan ada pula hal-hal yang tidak berdampak apabila dilakukan karena lupa, tidak tahu, atau karena adanya uzur, tergantung jenis pelanggarannya.

Karena itu, jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa setiap kesalahan saat ihram otomatis membatalkan haji.

Jika jamaah mengalami kasus tertentu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan pembimbing ibadah atau ahli fikih yang mendampingi rombongan.

Tips Memakai Ihram agar Nyaman
Agar ibadah lebih nyaman, terutama ketika harus banyak berjalan, jamaah dapat memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Pilih kain ihram yang nyaman
Gunakan bahan yang menyerap keringat dan tidak terlalu licin.

2. Pastikan kain tidak mudah terlepas
Gunakan teknik lilitan yang benar dan sabuk ihram jika diperlukan.

3. Jangan terlalu ketat
Kain yang terlalu ketat dapat membuat jamaah tidak nyaman ketika berjalan dan beribadah.

4. Bawa perlengkapan seperlunya
Hindari membawa terlalu banyak barang karena jamaah akan banyak berjalan.

5. Pahami larangan ihram sebelum berangkat
Jangan menunggu sampai di Tanah Suci untuk mempelajarinya.

6. Ikuti arahan pembimbing
Terutama terkait waktu mengambil miqat dan pelaksanaan niat ihram

Masih ada pertanyaan tentang Haji atau Umroh?

Konsultasikan kebutuhan perjalanan dan bimbingan ibadah bersama tim An Naba.

Konsultasi Gratis
← Kembali ke Panduan
☏